….|》

…Dengan pedenya siang ini saya pergi ke daerah tenggara Pancatengan, dengan tujuan ingin hunting foto kondisi jalan Nasional jalur Buniasih yang menurut informasi sangat memprihatinkan, rusak parah, tidak terurus sudah seperti jalur kubangan munding a.k.a kebo, sebetulnya bukan rusaknya jalan tersebut yang menarik bagi saya, karena perkara jalan rusak di daerah kami ini sudah seperti duit 2rebu, ada dimana2.
Yang menarik buat saya adalah informasi mengenai banyaknya spanduk yang dibuat warga dalam pada menyampaikan keluh kesah dan aspirasinya mengenai penderitaan tak berujung mereka karena jalan yang harus mereka lalui rusak parah, tak manusiawi, bisa bikin saki pinggang, sakit jiwa, bahkan ketika kurang beruntung kaean bisa mati seketika gegara jalan rusak tersebut, ini nyata…disamping itu , yang memancing perhatian saya untuk mengambil foto juga karena kabarnya banyak pohon2 pisang yang entah kenapa bisa tertanam di tengah yang katanya ‘jalan nasional’ tersebut, ini menarik bagi saya. Fotografer nubi yang ga Tol.
Alhasil sampailah saya di penghujung jalan yang manusiawi-jalan hitam beraspal-yang mantap ketika dilewati-apapun kendaraan sodara, jalan kaki, naik andong, naik motor butut, atau bahkan naik bus reyot pun di jalan hitam ini masih manusiawi, tapi sayang, ini ujung nya…artinya , terbentang di depan belasan kilo jalan “atau yang disebut-jalan nasional” yang rusak parah, sumber penyakit (dari penyakit kulit, ispa, sampai penyakit jiwa) terbentang membelah kecamatan Pancatengah sampai ke ujung selatan, harusnya sampai pesisir laut selatan, di ujung aspal itu saya sudah disuguhi spanduk yang nyeleneh, nyentil, dan dalem, dibuka lah tas yang berisi kamera Canon jadul itu, lalu dengan posisi signifikan sedemikian rupa saya menyalakan kamera dan bermaksud mengambil gambar pertama…
…lalu ini penampakannya…
image

Ini menyakitkan…
…to be continued…